At the age of 20,
You'll find yourself stuck in the kitchen thinking
what to put first and what to put next in your cooking.
But it's okay, you're learning.
At the age of 20,
You'll fall in love with a boy
but you can never reach his heart.
You'll get tired,
You'll build a wall around your heart
but hey, life is too short to not fall in love again.
At the age of 20,
you'll be staying back late at the campus
trying to figure out the demand function.
It slowly cracks your head and never gets easier.
But it's okay, it will get better.
At the age of 20,
You'll have the awesomest friends,
Telling you what you need to hear
but not something you want to hear.
After all what happened
You learn it is worth it to walk away
from those who do not matter.
At the age of 20,
you'll find yourself wandering around the Walmart
Looking for stuff you don't need
when it's the only way to make yourself better.
Keep wandering because sometimes good thing
comes when it least expected.
At the age of 20,
Your family is 10000 miles away from you,
It's not something that you want,
it's not something that they want either.
It's called sacrifices.
Made to achieve your goals.
At the age of 20,
You know you want to go out of the comfort zone
but you're insecure,
you're afraid of taking the risk.
No, you're not supposed to.
Just spread your wings and break away.
At the age of 20,
You'll be lost in the sea of strangers.
You're looking for something.
You're longing for something
but you have no idea what it is.
You'll keep looking and looking
but it's not there.
It's okay, keep going and don't look back.
Cause you're almost there.
At the age of 20,
You'll tell yourself,
"I want to be the girl that everyone will be proud of"
but you don't know how.
It's not that easy but it's possible.
Stay strong, hang in there and live well.
He'll guide you through.
Saturday, 28 September 2013
Friday, 12 July 2013
Asing.
Asing.
Asingan.
Asingkan.
Pengasingan.
Mengasingkan.
Terasing.
Bukan aku,
bukan kau,
bukan mereka,
tapi kita semua.
Tak perlu tanya
kenapa sebab masing-masing
punya liku hidup berbeza.
Biar titik persamaan
itu buat kita tegar
untuk jadi asing.
Jangan sampai larut
dengan stereotaip.
Khuatir tak mampu diri
dihenyak garis identiti.
Asingan.
Asingkan.
Pengasingan.
Mengasingkan.
Terasing.
Bukan aku,
bukan kau,
bukan mereka,
tapi kita semua.
Tak perlu tanya
kenapa sebab masing-masing
punya liku hidup berbeza.
Biar titik persamaan
itu buat kita tegar
untuk jadi asing.
Jangan sampai larut
dengan stereotaip.
Khuatir tak mampu diri
dihenyak garis identiti.
Friday, 5 July 2013
Puisi untuk Wanita Itu.
Insan itu yang kita
panggil 'ibu' atau kerap kali dipanggil 'emak',
atau 'mama',
kadang-kadang digelar 'mummy' atau mungkin 'umi'
serta boleh jadi,
insan itu
kita beri namanya, 'bonda'.
Tak lekang senyuman
aku mendengar kisah-kisah
insan itu dari pinggir bibir putera puterinya.
Ada cerita lucu,
ada cerita kekalutan mereka
panik malah bimbangnya mereka
tatkala anak-anak jauh dari mata.
Bila pulang dari perantauan,
segerombolan juadah sibuk disiapkan.
Jenuh bermandi peluh di dapur
untuk melihat wajah anak-anak
muak menikmati masakan mereka.
Aku tertanya-tanya apa rahasia mereka?
Bekerja di siang hari
tapi mampu mengukir senyuman
bila malam menjelang.
Tak penatkah, wahai wanita?
Kasih mereka tak pernah pudar,
Rindu mereka tetap bersemadi
setiap hari,
Sayangnya mereka untuk kita
langsung tak mungkin
kita membalasnya.
Mama, Ibu, Mummy, Emak, Umi, Bonda,
Aku, kami anak-anakmu ini,
harap matahari tetap bersinar
menghiasi dinihari,
Biar senyuman engkau itu
kami mampu lihat
setiap hari.
panggil 'ibu' atau kerap kali dipanggil 'emak',
atau 'mama',
kadang-kadang digelar 'mummy' atau mungkin 'umi'
serta boleh jadi,
insan itu
kita beri namanya, 'bonda'.
Tak lekang senyuman
aku mendengar kisah-kisah
insan itu dari pinggir bibir putera puterinya.
Ada cerita lucu,
ada cerita kekalutan mereka
panik malah bimbangnya mereka
tatkala anak-anak jauh dari mata.
Bila pulang dari perantauan,
segerombolan juadah sibuk disiapkan.
Jenuh bermandi peluh di dapur
untuk melihat wajah anak-anak
muak menikmati masakan mereka.
Aku tertanya-tanya apa rahasia mereka?
Bekerja di siang hari
tapi mampu mengukir senyuman
bila malam menjelang.
Tak penatkah, wahai wanita?
Kasih mereka tak pernah pudar,
Rindu mereka tetap bersemadi
setiap hari,
Sayangnya mereka untuk kita
langsung tak mungkin
kita membalasnya.
Mama, Ibu, Mummy, Emak, Umi, Bonda,
Aku, kami anak-anakmu ini,
harap matahari tetap bersinar
menghiasi dinihari,
Biar senyuman engkau itu
kami mampu lihat
setiap hari.
Monday, 1 July 2013
Raikannya.
Tak senang,
Jalan ini tak senang,
Kata orang,
Nak berjaya itu bukannya senang,
maka,
Raikanlah kesusahan sebelum kesenangan itu.
Biar harapan tinggi menggunung,
Tapi jangan dibuat endah,
atau dihalusi setiap inci,
Jangan hanya sekadar berilusi di minda,
tapi haruslah kukuh matlamatnya.
Tak mengapa,
Biar perlahan asalkan mampu
setiap detik kisah hidup ini
dijadikan cerita
menghiasi hari-hari tua.
Jalan ini tak senang,
Kata orang,
Nak berjaya itu bukannya senang,
maka,
Raikanlah kesusahan sebelum kesenangan itu.
Biar harapan tinggi menggunung,
Tapi jangan dibuat endah,
atau dihalusi setiap inci,
Jangan hanya sekadar berilusi di minda,
tapi haruslah kukuh matlamatnya.
Tak mengapa,
Biar perlahan asalkan mampu
setiap detik kisah hidup ini
dijadikan cerita
menghiasi hari-hari tua.
Sunday, 23 June 2013
Hati ini biar mati.
Hati ini macam ombak,
kadang-kadang ia menghempas pantai
penuh emosi,
kadang-kadang ia tenang menyentuh
jiwa-jiwa manusia.
Tapi sebenarnya,
hati ini kuat.
Atau berpura-pura kuat?
Thursday, 20 June 2013
Untuk Makhluk Berakal
Makhluk itu bukan tahu bersyukur,
Hanya tahu mengeluh,
Hanya tahu merungut,
Hanya tahu mengkritik,
dan lebih parah,
hanya bisa mencaci.
Tak mungkin puas
rontaan hati-hati makhluk itu,
Tanpa sedar
wujud rasa rimas, kecewa
walau apa yang dilihat
pernah menjadi apa yang dimahu.
Ah!
Aku sendiri penat dengan makhluk ini,
Entah apa lagi yang diidamkan
diberi perak, mahukan emas,
diberi wang, mahukan harta.
Lalu diri menjadi hampa
saat keinginan tidak mengikut
corak paradigma minda yang bertuhankan nafsu.
Sudah,
sudahlah makhluk berakal,
lihatlah ke belakang dan
belajarlah untuk tersenyum.
Hanya tahu mengeluh,
Hanya tahu merungut,
Hanya tahu mengkritik,
dan lebih parah,
hanya bisa mencaci.
Tak mungkin puas
rontaan hati-hati makhluk itu,
Tanpa sedar
wujud rasa rimas, kecewa
walau apa yang dilihat
pernah menjadi apa yang dimahu.
Ah!
Aku sendiri penat dengan makhluk ini,
Entah apa lagi yang diidamkan
diberi perak, mahukan emas,
diberi wang, mahukan harta.
Lalu diri menjadi hampa
saat keinginan tidak mengikut
corak paradigma minda yang bertuhankan nafsu.
Sudah,
sudahlah makhluk berakal,
lihatlah ke belakang dan
belajarlah untuk tersenyum.
Monday, 3 June 2013
Mujurlah
Mujurlah,
kisah ini masih belum berakhir,
Sebab burung-burung yang terbang
masih belum lelah untuk terus terbang.
Ada senyuman
yang masih mampu memberi harapan,
Kalau buruk,
teruskan berjalan
walau khuatir tidak menemui kejayaan,
Kalau baik,
teruskan berlari,
mungkin larian ini
masih belum cukup pantas.
Mujurlah,
kisah ini masih belum berakhir
kerana diri ini tidak akan pernah lelah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
